Bekam Kering adalah teknik penghisapan kulit menggunakan kop tanpa melalui proses penyayatan atau pengeluaran darah. Meskipun sering dianggap sebagai "versi ringan" dari bekam basah, bekam kering memiliki fungsi terapeutik yang sangat spesifik, terutama dalam menangani masalah muskuloskeletal (otot dan tulang) serta gangguan saraf ringan.
Mekanisme Fisiologis
Pada bekam kering, fokus utamanya adalah menciptakan tekanan negatif yang bertahan lama pada area tertentu. Proses ini memicu beberapa reaksi tubuh:
Distraksi Saraf: Tekanan vakum merangsang serabut saraf sensorik di kulit, yang dapat membantu "menipu" otak untuk mengurangi persepsi nyeri kronis.
Sirkulasi Lokal: Darah ditarik ke area permukaan (hiperemia), sehingga area yang tadinya dingin atau kaku karena kurang sirkulasi menjadi hangat dan lebih lentur.
Pelepasan Fascia: Teknik ini sangat efektif untuk menarik fascia (jaringan ikat yang membungkus otot). Jika fascia menempel terlalu ketat pada otot, akan muncul rasa kaku. Bekam kering membantu merenggangkannya.
Variasi Bekam Kering: Sliding Cupping
Salah satu variasi paling populer dari bekam kering adalah Bekam Seluncur (Sliding Cupping atau Massage Cupping).
Prosedur: Kulit diolesi minyak zaitun atau minyak urut, kemudian kop dipasang dengan vakum ringan dan digeser-geser di sepanjang jalur otot atau meridian.
Manfaat: Teknik ini memberikan efek pijatan yang jauh lebih dalam daripada pijatan tangan manual, sangat efektif untuk menghancurkan simpul otot (trigger points) dan melancarkan aliran limfatik.
Keunggulan Bekam Kering
Minim Risiko: Karena tidak ada luka terbuka, risiko infeksi hampir tidak ada.
Fleksibilitas: Dapat dilakukan lebih sering dibandingkan bekam basah.
Cocok untuk Pasien Tertentu: Sangat disarankan bagi pasien yang takut jarum, anak-anak, atau mereka yang memiliki kondisi fisik lemah yang tidak memungkinkan untuk mengeluarkan darah.
Hasil yang Terlihat
Meskipun tidak mengeluarkan darah, bekam kering tetap meninggalkan tanda melingkar berwarna merah atau ungu (ekimosis). Dalam pengobatan tradisional, warna ini digunakan sebagai indikator diagnostik: semakin gelap warnanya, semakin besar tingkat stagnasi atau gangguan sirkulasi di area tersebut.